broken home…so what gitoeh loehh

Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat ortu kita tak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah.

awalnya aku mempunya ortu yang kini sudah cerai, ortu ku cerai akibat mungkin sudah banyak nya permasalahan yang menurut mereka sudah terlalu komplek dan gak bisa mereka selesaikan, saat aku berumur -+ 10 tahun mereka dah melaksanakan sidang perceraian, aku sih masih kecil so yaa gak tau banyak tentang kata ( cerai ), tapi aku inget betul saat malam itu aku sudah tidak di temani oleh mereka, yang ku tau aku hanya bertemankan boneka kecil ku , bantal , dan gulingku yang saat itu masih berbau pesing akibat aku masih ngompol…. yaaa kan masih cukup kecil juga wat aku….tapi so what gto loh….toh aku gak bakal di marahi oleh ortu ku, cz mereka lagi pada cuek – cuekan, so yaaa enjoy aja, tapi waktu beralalu yang ada hanya kasih sayang seorang bapak. ya bapak ku lah yang dari aku berumur 10 tahun sampe sekarang aku besar, dia lah yang merawatku, karna pada saat mulai ortu ku cerai aku pastikan untuk memilih bapaku, aku juga tidak tau kenapa aku memilih beliau, yang aku tau alasan saat itu karna mba ku dan mas ku pun ikut bapaku semua, so ya ikut ikutan deh, padahal aku juga saat itu gak tega juga dan bingung juga mau memilih ikut siapa, yang ada di benaku aku hanya ingin mereka ada di sampingku selama nya seutuh nya, tapi dari penjelasan mba ku itu sudah tidak mungkin, cz ya mereka sudah berpisah.

Saat aku beranjak dewasa, aku baru menyadari bahwa : ” inilah kenyataanya bahwa bapak dan ibuku tidak terbentuk menjadi suami istri alias sudah CERAI”, tapi aku menyadarinya dengan biasa biasa saja tanpa merasakan penyesalan sedikitpun, karna itu adalah masalah kedua orang tua ku. banyak yang bilang juga anak dari akibat broken home akan menjadi anak yang gak bener alias akan bergabung dengan komunitas anak anak nakal yang memiliki tingkah polah negative, tapi kenyataanya tidak demikian, aku bisa buktikan bahwa anak anak dari keluarga yang broken home itu tidak semuanya di salah kan seperti itu. tinggal pribadi kita saja menyikapi itu dengan bagaimana, kenyataan ada di diriku, aku mampu menjalani kehidupan ini walaupun tanpa kasih sayang sebuah orang tua yang utuh, karna aku yakin bahwa bapak dan ibuku pun tidak menghendaki untuk bercerai, keadaan lah yang membuat mereka berpisah, mesti kini ibu dengan banyak pencarian nya, tapi aku yakin itu pun hanya semata mata untuk mencari sebuah kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat, ya awalnya iri juga sih jikalau melihat teman teman atau orang di sekeliling ku yang memiliki keutuhan abadi di dalam lingkup pribadinya, tapi aku justru bangga karna aku di berikan sebuah pengalaman yang nyata yang benar benar aku rasakan, tanpa mereka tau itu justru membuat aku kuat, tegar menjadi anak yang selalu bisa menyelesaikan permasalahan itu dengan rileks, tanpa emosi, karna banyak yang seumuran dengan aku yang walaupun umur mereka sudah di katakan dewasa tapi sikap mereka masih seperti anak anak, yang selalu menuntut mesti terwujudnya keinginan itu, tapi tidak dengan aku, aku selalu mencoba dan berpikir dewasa bahwa tak semuanya hal hal yang aku pingin kan dapat terwujud, kecuali itu dengan usaha yang matang dan niat yang sungguh sungguh, kata orang sih mesti optimis.

nah buat kita kita yang mengalami broken home atau dari keluarga yang tidak utuh, pingin tau caranya supaya kita tetap merasa “baik-baik” saja dan tidak menjadi malu serta tidak percaya diri atau lari dari masalah dengan cara-cara yang salah?

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan apabila kita terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan ini. Awalnya sih sulit dan tidak gampang karena kita mesti menghadapi situasi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Namun, bukankah setiap permasalahan itu ada jalan keluarnya? Nah, berikut ini ada beberapa cara ampuh untuk mengatasi situasi seperti itu.

Hadapi semuanya dengan sikap positif

Tidaklah semua yang terjadi itu merupakan hal buruk meskipun itu sesuatu yang berdampak negatif ke kita. Kita harus mencoba menerima keadaan dan berusaha tegar. Hal ini akan membantu kita mengatasi masalah tersebut.

Berpikir positif

Peristiwa yang kita alami kita lihat dari sisi positifnya. Karena di balik semua masalah pasti ada hikmah yang dapat kita petik. Jadikan itu semua sebagai proses pembelajaran bagi kita sebagai remaja menuju tahap kedewasaan. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita ke jurang kehancuran, seperti memakai narkoba, minum-minuman keras, malah sampai mencoba untuk bunuh diri.

Jangan terjebak dengan situasi dan kondisi

Yang jelas, kita enggak boleh terjebak dengan situasi dan menghakimi orangtua atau diri sendiri atas apa yang terjadi serta marah dengan keadaan ini. Alangkah baiknya apabila kita bisa memulai untuk menerima itu semua dan mencoba menjadi lebih baik. Keterpurukan bukanlah jalan keluar. Sebaiknya sih kita bisa tegar dan mencoba bangkit untuk menghadapi cobaan ini. Tetap berusaha itu kuncinya.

Mencoba hal-hal baru

Tidak ada salahnya kita mencoba sesuatu yang baru, asal bersifat positif dan dapat membentuk karakter positif di dalam diri kita. Contohnya, mencoba hobi baru, seperti olahraga ekstrem (hiking, rafting, skating atau olahraga alam) yang dapat membuat kita bisa lebih fresh (segar) dan melupakan hal-hal yang buruk.

Cari tempat untuk berbagi

Kita enggak sendirian lho, karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain. Mencari tempat yang tepat untuk berbagi adalah solusi yang cukup baik buat kita, contohnya teman, sahabat, pacar, atau mungkin juga saudara. Ya… usahakan tempat kita berbagi itu adalah orang yang dapat dipercaya dan kita bisa enjoy berkeluh kesah dengan dia.

Beberapa hal di atas dapat dijadikan acuan buat kita karena sebenarnya semua permasalahan itu ada solusinya.

Enggak perlu panik

Kita enggak bisa mengelak apabila itu terjadi pada keluarga kita walaupun kita tidak menginginkannya. Enggak perlu panik ataupun sampai depresi menghadapinya. Walaupun berat, kita juga musti bisa menerimanya dengan bijak. Karena siapa sih yang mau hidup di tengah keluarga yang broken home? Pasti semua anak enggak akan mau mengalaminya.

Broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi kehidupan kita. Jalan kita masih panjang untuk menjalani hidup kita sendiri. Pergunakanlah situasi ini sebagai sarana dan media pembelajaran guna menuju kedewasaan. Ingat, kita tidak sendiri dan bukanlah orang yang gagal. Kita masih bisa berbuat banyak serta melakukan hal positif. Menjadi manusia yang lebih baik belum tentu kita dapatkan apabila ini semua tidak terjadi. Mungkin saja ini merupakan sebuah jalan baru menuju pematangan sikap dan pola berpikir kita.

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!